Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Ambil Untung Bakal Tekan IHSG

Written By Unknown on Kamis, 14 Februari 2013 | 09.38

Pasar Modal

Ambil Untung Bakal Tekan IHSG

Penulis : Robertus Benny Dwi Koestanto | Kamis, 14 Februari 2013 | 08:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com- Indeks Harga Saham Gabungan siap-siap mengalami tekanan pada perdagangan Kamis (14/2/2013).

Kenaikan indeks yang cukup tinggi dalam perdagangan pekan ini akan memancing investor mengambil keuntungan.

Sentimen negatif datang dari pergerakan bursa global yang ditutup merah pada akhir perdagangan semalam waktu Indonesia.

Bursa Wall Street berakhir variatif. Indeks Dow Jones industrial average melemah 0,26 persen ke level 13.982; Indeks S&P 500 menguat tipis 0,06 persen ke level 1.520 dan Indeks Nasdaq naik 0,33 persen ke level 3.196.

Di akhir perdagangan kemarin IHSG ditutup naik 23,33 poin (0,51 persen) ke level 4.571.57 dengan jumlah transaksi sebanyak 13,18 juta lot atau setara dengan Rp 5,17 triliun.

Indeks menyentuh rekor tertingginya lagi dalam sejarah. Investor asing tercatat melakukan pembelian bersih di pasar reguler sebesar Rp 464,18 miliar dengan saham yang paling banyak dibeli adalah BBRI, ASII, UNVR, BBNI dan AKRA.

Mata uang rupiah terdepresiasi ke level Rp 9.635 per dollar AS. Secara teknikal, menurut riset eTrading Securities, kenaikan IHSG menciptakan all time high yang baru pada level 4.586 dan merupakan hasil optimisme pasar setelah dua hari lalu IHSG menghasilkan sinyal long white body candlestick.

Untuk hari ini diperkirakan IHSG masih akan menguat dimana hal ini terlihat dari indikator MACD yang menghasilkan sinyal bullish dan dikonfirmasi juga oleh indikator 5 dan 20 day period moving average.

Level dukungan indeks hari ini diperkirakan di level 4.480 dan resisten di level 4.650. Adapun saham-saham yang dapat diperhatikan adalah HRUM, INTP dan WIKA.

Editor :

Tjahja Gunawan Diredja


09.38 | 0 komentar | Read More

Empat Direktur BCA Melepas Sebagian Saham

JAKARTA, KOMPAS.com — Jajaran direksi PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ramai-ramai menjual kepemilikan sahamnya sejak awal tahun ini. Tercatat, hingga Rabu (13/2/2013), ada empat petinggi BCA yang menjual kepemilikan sahamnya. 

Secara keseluruhan, sejak 18 Januari hingga 13 Februari tahun ini, jumlah efek BBCA yang dijual para pemegang sahamnya mencapai 2,679 juta dengan nilai Rp 22,687 miliar. 

Sebagai rincian, kemarin, Presiden Direktur BBCA, Jahja Setiaatmadja, menjual sebanyak 900.000 efek dengan kisaran harga Rp 9.950 per saham. Transaksi penjualan saham BBCA oleh Jahja terjadi pada 4 Februari lalu. Dalam aksi ini, orang nomor satu di BCA itu meraup dana Rp 8,955 miliar dengan tujuan untuk pembelian rumah.

Setelah transaksi ini, jumlah saham yang dimiliki Jahja berjumlah 9,3 juta saham.

Pada 18 Januari lalu, Direktur BBCA, Erwan Yuris Ang, juga menjual kepemilikannya sebanyak 150.000 saham sehingga jumlah kepemilikannya menjadi 940,3 ribu saham. Pada saat itu, penjualan saham BBCA oleh Erwan berada pada level Rp 9.200. Bertujuan untuk keperluan pribadi, Erwan meraup dana Rp 1,38 miliar dari aksi tersebut.

Pada saat yang sama, Direktur BBCA lainnya, Tan Ho Hien, atau yang lebih dikenal dengan nama Subur Tan, menjual saham BBCA selama periode 18 Januari hingga 30 Januari lalu. Subur menjual 1,429 juta saham dengan harga rata-rata Rp 9.500 per saham. 

Dari transaksi ini, Subur meraup dana Rp 13,57 miliar. Adapun saham BBCA yang dimiliki Subur menjadi 4,435 juta lembar saham.

Saham BBCA juga dijual Dhalia Ariotedjo yang juga menjabat sebagai direktur di BCA. Dhalia menjual 200 ribu saham pada 21 Januari lalu dengan harga rata-rata Rp 9.500 per lembar saham sehingga kepemilikannya menjadi 6,2 juta saham. Dari aksi ini, Dhalia mendapatkan dana sebesar Rp 1,9 miliar. (Issa Almawadi/Kontan)

Sumber :

KONTAN

Editor :

Erlangga Djumena


09.38 | 0 komentar | Read More

Pemerintah Belum Mau Naikkan Harga BBM Subsidi

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah masih tetap bertahan untuk tidak segera menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi meski defisit neraca perdagangan sudah terus membebani anggaran negara.

Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar menjelaskan, saat ini, pemerintah masih akan fokus pada pengendalian, penghematan, dan konversi BBM ke gas untuk bisa menekan neraca perdagangan tersebut sehingga opsi untuk menaikkan harga BBM masih merupakan opsi terakhir.

"Kita lihat dulu apakah ketiga program itu apakah sudah bisa jalan dengan baik dan efektif atau tidak sehingga nanti diharapkan tidak membawa dampak terlalu berat ke APBN," kata Mahendra saat ditemui di kantor Kementerian Perekonomian Rabu (13/2/2013) malam.

Sampai saat ini, ketiga opsi itu masih menjadi pilihan terbaik bagi pemerintah. Nantinya, ketiga program ini juga akan terus diperkuat dengan dukungan dari berbagai pihak.

Pemerintah juga masih menunggu kebijakan pembatasan kendaraan yang pernah dilontarkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, baik melalui sistem ganjil genap maupun lainnya untuk bisa menekan konsumsi BBM.

"Inisiatif itu harus direspons dan dicermati juga, apakah bisa membuahkan hasil atau tidak," ujarnya.

Seperti diberitakan, subsidi pada APBN 2013 sebesar Rp 317,2 triliun, naik 29,4 persen dari Rp 245,1 triliun di APBNP 2012. Subsidi energi mencapai Rp 274,7 triliun, yang merupakan komponen subsidi.

Dari jumlah tersebut, subsidi BBM mencapai Rp 193,8 triliun, naik 41,1 persen dari tahun sebelumnya. Sementara itu, subsidi listrik mencapai Rp 80,9 triliun, naik 24,6 persen dibanding tahun lalu.

Menteri Perekonomian Hatta Rajasa menjelaskan, pihaknya memiliki tiga opsi untuk mengendalikan BBM bersubsidi, tetapi tetap tanpa menaikkan harga BBM bersubsidi tersebut.

"Pokoknya kita belum memutuskan untuk menaikkan harga BBM bersubsidi. Kita hanya konsentrasi pada pengendalian, penghematan, dan konversi. Itu serius betul tentang itu," kata Hatta selepas rapat koordinasi di kantor Kementerian Perekonomian Jakarta, Selasa (12/2/2013).

Editor :

Ana Shofiana Syatiri


09.38 | 0 komentar | Read More

Harga Minyak Mentah Terus Naik

Written By Unknown on Rabu, 13 Februari 2013 | 09.38

NEW YORK, KOMPAS.com - Harga minyak mentah kembali naik pada Selasa (12/2/2013) waktu setempat, (Rabu pagi WIB). Kenaikan ini antara lain didukung oleh adanya perkiraan bahwa permintaan terhadap emas hitam ini, akan lebih kuat.  Pasar juga tengah menunggu laporan persediaan minyak mingguan AS pada Rabu waktu setempat.

Harga per barel minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret menetap di 97,51 dollar AS, naik 48 sen dibandingkan dengan tingkat penutupan pada Senin.

Di London, per barel minyak mentah Brent diperdagangkan 118,66 dollar AS, naik 53 sen dari posisi Senin.

Lonjakan harga minyak terjadi karena Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak merevisi naik proyeksi permintaan minyak global untuk 2013.

OPEC mengatakan, mereka memperkirakan total permintaan tahun ini menjadi 89,68 juta barel per hari, naik 130.000 barel per hari dari perkiraan bulan lalu. "Laporan itu mendukung pasar," kata pedagang Again Capital John Kilduff.

Perkiraan OPEC dibayangi oleh laporan Departemen Energi AS yang memproyeksikan permintaan global 2013 sebesar 90,2 juta barel per hari, naik 100.000 barel per hari dari perkiraannya pada Januari.

Phil Flynn, seorang analis Price Futures Group di Chicago, mengatakan minyak juga mendapat dukungan dari kenaikan pasar ekuitas. Pada perdagangan sore, indeks Dow Industrial naik 61,01 poin sementara S&P 500 naik 3,51 poin.

Minyak, menurut Flynn, juga mengambil kekuatan dari kenaikan 0,39 persen euro terhadap dollar. Karena minyak diperdagangkan dalam dollar, minyak mentah menjadi lebih murah bagi pembeli dalam mata uang lainnya ketika nilai dolar jatuh.

"Sekarang kami mendapat dukungan kenaikan mata uang dan pasar saham yang lebih kuat," kata Flynn.

Flynn mengatakan pasar sedang menunggu laporan stok minyak mentah AS pada Rabu waktu setempat. "Pasar sekarang tampaknya menjadi sedikit ragu-ragu," kata Flynn. "Ini tampaknya seperti kita berada dalam modus menunggu-dan-melihat."

Editor :

Erlangga Djumena


09.38 | 0 komentar | Read More

Edward Soerjadjaya Gusur Peluang Hadji Kalla Group

JAKARTA, KOMPAS.com - Proyek pembangunan moda transportasimassal monorel segera dijalankan lagi, setelah Ortus Group yang menjadi pemegang saham pengendali PT Jakarta Monorail (JM) siap mengelontorkan dana untuk seluruh kebutuhan proyek tersebut.

Ortus Group merupakan kelompok usaha dalam bidang manajemen investasi milik Edward Soeryadjaya, putra mendiang mantan pemilik raksasa otomotif Indonesia, William Soeryadjaya. Selain Ortus Group, Edward juga menjadi pemegang saham pengendali bisnis Sugih Group, kelompok bisnis yang bergerak di bidang pertambangan dan perminyakan.

Fachmi Zarkasi, Direktur Ortus Group menyatakan, dana yang akan digunakan untuk membangun proyek ini sepenuhnya dari pendanaan swasta tanpa dibiayai oleh APBN ataupun APBD. "Kami akan  menyiapkan dana sebesar yang dibutuhkan untuk merealisasikan proyek harapan warga Jakarta ini," kata, Selasa (12/2/2013).

Direktur Utama PT JM Sukmawati Syukur memaparkan, Ortus Group akan mengambil sampai 90 persen saham PT JM. Sampai saat ini, proses akuisisi sudah masuk dalam tahap akhir. "Saat ini, Ortus Group sudah membiayai beberapa proyek infrastruktur di Indonesia," ungkapnya, kemarin.

Sekadar informasi, sebelum nama Ortus Group ini mencuat sebagai pemegang saham utama PT JM, nama Hadji Kalla Group lebih dulu digadang-gadang akan menguasai perusahaan tersebut. Medio Januari lalu, perusahaan milik keluarga Kalla itu dikabarkan akan menguasai 60 persen saham PT JM dan akan menyediakan equity sekitar Rp 2 triliun.

Aksi Ortus Group mengambil 90 persen saham PT JM, otomatis melengserkan Hadji Kalla Group dari upaya menguasai JM. Meski begitu, Sukmawati bilang, pintu masih terbuka bagi perusahaan milik mantan Presiden wakil Jusuf Kalla itu. Lagi pula, dalam setiap pengerjaan infrastruktur, Ortus Group akan mengelola dana dari banyak pihak. "Yang penting, Ortus telah membiayai proyek monorel ini di awal," tandas Sukmawati.

Melihat peluang menguasai proyek monorel mengecil, Irsal Kamaruddin, Direktur Utama PT Bukaka Teknik Utama yang merupakan anak usaha Hadji Kalla Group, mengatakan, pihaknya selama ini cuma menunggu respons dari Jakarta Monorel sebagai pemegang konsesi proyek monorel di Jakarta.  "Kami kan menjual barang. Kalau dipakai silakan, tapi kalau tidak juga enggak masalah," katanya diplomatis. (Fahriyadi/Kontan)

Sumber :

KONTAN

Editor :

Erlangga Djumena


09.38 | 0 komentar | Read More

IHSG Rawan Balik Arah

IHSG Rawan Balik Arah

Penulis : Didik Purwanto | Rabu, 13 Februari 2013 | 09:09 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini diperkirakan masih berada pada area jenuh beli (overbought). IHSG masih diragukan untuk bisa bertahan di area tersebut.

"IHSG saat ini secara historis selalu diikuti dengan pelemahan pasca tersentuhnya new high record. Untuk itu, tetap mewaspadai bila sinyal pembalikan arah mulai muncul," kata analis Trust Securities Reza Priyambada di Jakarta, Rabu (13/2/2013).

Menurut Reza, IHSG diperkirakan akan bergerak pada support 4475-4510 dan resistance 4552-4561. Sementara rekomendasi sahamnya antara lain CTRS, ADHI, KLBF, MNCN, BBRI. PTRO, ASRI, BHIT, CPIN dan BBCA.

Di sisi lain, belum banyaknya indeks saham Asia yang buka menjadikan indeks Nikkei kali ini menjadi acuan bagi IHSG. Selain imbas tersebut, banyaknya rilis berita emiten di berbagai media yang mengarah positif membuat IHSG melanjutkan relinya hingga membentuk new high record lagi.

Pola pergerakan intraday saat ini hampir menyamai pola pada 1 Februari 2013 dimana memiliki tren naik dibandingkan hari-hari sebelumnya yang secara intraday cenderung mendatar.

Sepanjang perdagangan kemarin, IHSG menyentuh level 4.548,54 (level tertingginya) jelang pre closing dan menyentuh level 4.503,56 (level terendahnya) di awal sesi dan akhirnya berhasil bertengger di level 4.548,24.

Volume perdagangan dan nilai total transaksi meningkat. Investor asing mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.

Editor :

Erlangga Djumena


09.38 | 0 komentar | Read More

Pemerintah Bakal Pungut Pajak Kekayaan

Written By Unknown on Selasa, 12 Februari 2013 | 09.38

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak kembali menggulirkan rencana pungutan pajak kekayaan bagi pemilik bisnis yang mencatatkan saham perusahaannya di bursa (saham pendiri). Berdalih keadilan, Direktur Jenderal Pajak Fuad Rachmany, Senin (11/2/2013), mengatakan, pajak atas kekayaan ini akan dipungut saban tahun kepada para pemegang saham pendiri. 

Ditjen Pajak juga akan memungut pajak saat para pemegang saham ini menjual sahamnya di pasar modal. Pajak ini merupakan pajak tambahan dari pajak transaksi penjualan saham yang sifatnya final, yakni sebesar 0,1 persen.

Tarif yang ditawarkan ini setara dengan pajak bumi dan bangunan (PBB), yakni 0,1 persen dari nilai aset. Hanya saja, Ditjen Pajak tidak merinci apakah pungutan pajak penjualan saham ini juga dilakukan tiap tahun berdasarkan valuasi dari kekayaan, atau hanya sekali saja saat terjadi pengalihan hak atas aset.

Fuad yakin, dengan tarif pajak kecil, orang kaya tidak akan keberatan membayar pajak ini. "Unsur keadilan membuat perlu adanya pajak kekayaan atas kepemilikan saham," ujar Fuad. Orang kaya harus membayar kewajiban pajaknya lebih banyak dibandingkan si miskin.

Fuad paham bahwa rencana ini pasti akan mendapat penolakan seperti saat ia melontarkan wacana ini tahun lalu. Apalagi, negara maju juga belum mengenakan pajak ini.

Pengamat Pajak dari Universitas Indonesia Gunadi yakin, rencana pajak kekayaan tak otomatis membuat iklim usaha di Indonesia menjadi buruk. Terutama, bagi perusahaan yang ingin menawarkan sahamnya ke publik lewat bursa. "Kalau 0,1 persen tidak akan berpengaruh. Tapi kalau 10 persen-15 persen pasti berpengaruh buruk," tambahnya.

Ronny Bako, Pengamat Pajak Universitas Pelita Harapan (UPH) menambahkan, pajak atas kekayaan ini akan membuat wajib pajak ketakutan melaporkan kekayaan mereka. Namun, jika hanya untuk perusahaan yang akan go public tidak akan jadi masalah.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi menilai pajak terlalu panik dengan beban penerimaan. "Semua harus dihitung betul. Ketika ekonomi sulit seperti sekarang, kok malah mau menggenjot pajak. Maunya pemerintah itu apa?" kata Sofyan berapi-api. (Anna Suci Perwitasari, Agus Triyono/Kontan)

Sumber :

KONTAN

Editor :

Erlangga Djumena


09.38 | 0 komentar | Read More

Stimulasi Perekonomian AS Akan Berlanjut

Pasar Modal

Stimulasi Perekonomian AS Akan Berlanjut

Penulis : Robertus Benny Dwi Koestanto | Selasa, 12 Februari 2013 | 08:06 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com- Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, masih akan melakukan stimulasi bagi perekonomian negeri itu.

Seperti diungkapkan Wakil The Fed, Janet Yellen, hal itu dilakukan sehubungan pemulihan ekonomi AS yang lambat relatif gagal menciptakan kemajuan yang terus-menerus pada tenaga kerja.

Dalam keterangannya yang dikutip tim riset Monex Investindo Futures di Jakarta, Selasa (12/2/2013), Yellen yang dianggap sebagai calon kuat pengganti Ben Bernanke tahun depan, itu akan fokus kepada bagian ekspansi ekonomi yang lemah yaitu tenaga kerja.

"Jauhnya perbedaan antara tenaga kerja maksimum dan kondisi sangat sulit yang dihadapi pekerja saat ini menjelaskan dibutuhkannya usaha dari Federal Reserve kini untuk menguatkan pemulihan," ucap Yellen.

Yellen menyalahkan kebijakan anggaran AS yang tidak menentu sebagai titik kelemahan pada pemulihan.

"Kami telah mengambil langkah tegas, dan akan terus demikian untuk mempercepat laju pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja," kata dia.

Namun, bursa saham AS ditutup melemah tipis pada sesi perdagangan kemarin seiring investor masih cemas di tengah minimnya katalis menyusul reli belakangan ini yang membantu S&P 500 mengakhiri kenaikan untuk pekan keenam.

Dengan reli Dow belakangan ini tertahan di sekitar 14,000, sejumlah analis melihat kemungkinan apakah pasar berkonsolidasi untuk dapat mendorong naik atau akan terkoreksi.

Editor :

Tjahja Gunawan Diredja


09.38 | 0 komentar | Read More

Mencontoh Ikan Salmon

KOMPAS.com - Kekayaan sumber daya alam terbukti tidak hanya menjadi sumber konflik suatu negara. Dengan pengelolaan yang baik dan berkelanjutan, kekayaan tersebut mampu memakmurkan rakyat. Terbukti di Norwegia, negara eksportir sumber daya pangan laut terbesar kedua di dunia.

Sebagai catatan, nilai ekspor Norwegia tahun 2012 mencapai 9,3 miliar dollar AS. Nilai ekspor produk ikan laut menempati urutan ketiga terbesar setelah minyak dan gas bumi serta produk aluminium. Juga menimbulkan efek domino bagi perekonomian negara itu. Sejauh ini, Norwegia telah mengekspor sumber daya pangan laut ke lebih dari 130 negara, sedangkan ikan salmon telah dipasarkan ke seratus negara.

Pangsa pasar ekspor utama produk ikan laut dari Norwegia adalah Eropa. Salah satu ikan laut tadi adalah salmon. Untuk memperluas pasar, Norwegia kini menjajaki ekspor ke Asia, antara lain China, Singapura, dan Indonesia, seiring pesatnya pertumbuhan ekonomi di sana.

Dengan penduduk besar, Indonesia menjadi pasar potensial. Badan Sumber Daya Pangan Laut Norwegia (Norwegian Seafood Council/NSC) mencatat, nilai ekspor ikan salmon Norwegia ke Indonesia naik dari 8,11 juta dollar AS tahun 2011 menjadi 9,82 juta dollar AS tahun 2012 dengan volume ekspor naik hampir dua kali lipat. Jika tahun 2011 Norwegia menguasai 54 persen dari pasar ikan segar di Indonesia, tahun 2012 sudah 86 persen.

Dalam memasarkan hasil produksi ikan, NSC berperan penting. Lembaga yang di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan Norwegia dan didanai industri perikanan laut itu berdiri sejak tahun 1991 dan memiliki 12 kantor cabang di berbagai negara. Institusi itu bertugas memasarkan dan jadi pusat informasi pemasaran hasil perikanan laut Norwegia.

Di antara berbagai jenis produk kelautan, ikan salmon menjadi salah satu sumber daya pangan laut yang banyak diekspor. Ada sejumlah alasan mengapa ikan salmon digemari, antara lain mudah dimasak, dan tingginya kandungan nutrisi pada ikan tersebut sesuai dengan tren kesehatan global.

Menurut Direktur Regional untuk kawasan Asia Tenggara NSC Christian Chramer, kesuksesan Norwegia mengekspor ikan salmon juga disebabkan jenis ikan itu dibudidayakan di perairan laut di negara itu dengan kontrol ketat. Jika beberapa jenis ikan lain umumnya ditangkap di sungai dan lautan sehingga bergantung pada musim, ikan salmon segar dapat diperoleh di segala musim sepanjang tahun dengan mutu terjaga.

Karena semua produksi pangan bisa berdampak lingkungan, pemerintah setempat, peneliti, dan kalangan industri bekerja sama untuk memastikan pembudidayaan ikan laut itu berjalan dalam kerangka keberlanjutan demi menjamin keanekaragaman hayati, mutu, dan produksi ikan salmon.

Keberhasilan Norwegia menjadi eksportir utama ikan laut di pasar dunia, terutama ikan salmon, ini patut ditiru. Dengan sumber daya laut melimpah, Indonesia berpotensi menjadi negara eksportir ikan laut kelas dunia. Namun, hal itu akan sulit terwujud tanpa komitmen kuat pemerintah dan pemangku kepentingan lain untuk mengembangkan sektor kelautan dan perikanan secara berkelanjutan. (EVY RACHMAWATI)

Editor :

Erlangga Djumena


09.38 | 0 komentar | Read More

Penjualan Ritel AS Diperkirakan Naik

Written By Unknown on Senin, 11 Februari 2013 | 09.38

Pasar Modal

Penjualan Ritel AS Diperkirakan Naik

Penulis : Robertus Benny Dwi Koestanto | Senin, 11 Februari 2013 | 08:38 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com -- Penjualan ritel untuk bulan Januari di AS diperkirakan naik karena membaiknya pasar tenaga kerja, naiknya harga rumah dan harga saham. Hal itu direspon positif oleh pasar modal AS pada akhir pekan lalu.

Menurut ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih, Senin (11/2/2013) di Jakarta, penjualan diperkirakan naik 0,1 persen dibanding bulan sebelumnya (MOM) dari kenaikan 0,5 persen MOM pada Desember.

Pengeluaran konsumen selama triwulan keempat 2012 tercatat naik 2,2 persen, dibanding 1,6 persen pada triwulan ketiga 2012.

Department of Commerce juga akan mengumumkan data produksi yang diperkirakan juga akan naik. Hasil survei Bloomberg memperkirakan kenaikan sebesar 0,2 persen pada Januari 2013, dari 0,3 persen pada Desember 2012.

Perbaikan di sisi produksi ini didukung dengan membaiknya ekspor pada Desember sebesar 2,1 persen MOM. Investor menyambut positif perbaikan data tersebut.

Indeks Dow Jones industrial average naik 0,35 persen pada perdagangan akhir pekan lalu.


09.38 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger